Coban Watu Ondo, Beautiful Waterfall on The Side of The Road

Halloo goodnight friends, meet again with bikinbaperblog! Excuse me if we are only able to post again for travel articles. It’s known, we had been busy with a final task to complete bachelor studies, hehehe.

To you who are both struggling, we will also pray for you. For those who still go college, live college with gusto!

1

Okay. A few days ago, at the start of college where not too busy, I drive a motorcycle to town via the Batu – Cangar. Actually, my intentions were just sunmori/ sunday morning ride, the term of the motovlogger on Youtube * glasses *. But the side of the road there is a gate waterfall , just made me curious. Then I turn around and parked my vehicle there.

Continue reading

Another Side of Lawu’s Mountain Slope

dsc_0127

Hi guys, what do you think about mountain slope? Fresh air? Hills? or who sell cilok or roasted corn? Hehehe. All true. Sometimes we feel so bored with all long day activities which we did. Therefore we need refeshing, one of which is mountain slope.

In mountain slope we get fresh air, some people are like with this situation. Feel better and relax. At chrismas holiday, we visited Lawu’s mountain slope. Is quite far from Yogyakarta, approximatelly 100 kilometers. If you from Solo, you just riding or driving as far as 30 kilometers.

screenshot_20170117_040349

In Karanganyar regency – Central Java – Indonesia, there are some interesting sights to visit. There are :

  1. Cetho temple,
  2. Sukuh temple,
  3. Jumog waterfall, and the last is
  4. Kemuning tea gardens.

However, at this time we visit only two destination because we have shot time, hiks-hiks. The first is Cetho temple. The location of this temple are so high. Need some extra effort to come here. The road to here is very extreme, a lot of sharp turns along steep slopes. Road also not wide. So, its not recommend to ride or drive if you its first time here. Its better to replace the driver with a more expert.

dsc_0135

looooong (high angle) steep road

I ‘ve arrived at Cetho temple, hehehe. Just with seven thousand rupiah for paying ticket, we can visit the temple which was built on 700 years ago. But before going, we are obliged to wear a sarong to respect for places of worship of Hindu religion. Its free.

dsc_0133

if you visit this place at 9 am, maybe you’ll get your picture silhouette in the results, as we showed, huhu. So it is better you come here in the morning or late afternoon. These are some photos of the temple, cekitdot!

dsc_0097

Gate of temple.

dsc_0105

This temple is symmetrical.

dsc_0106

This statue are fairly high, about 50 cm.

The temple complex when first discovered the stone ruins on the 14 terrace / punden storey, extending from west to east. Updates in the late 1970s conducted by Sudjono Humardani, personal assistant Suharto, changed a lot of the original structure of the temple, although the concept punden retained. Several new object updates the results are considered to have no original is a gate at the front part of the complex, the buildings of the wooden hermitage, the sculptures attributed as Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, and Phallus, and there was the top of the cube building punden. Then during the regents karanganyar, Rina Iriani put a statue of Goddess Saraswati, the contribution of Gianyar, on the east abagian the temple complex, on punden higher than building a cube.

Ceto temple complex now consists of nine levels of terraces. Before the large arch-shaped temple moment, seen two pairs of statues guard. The first level after the gate into the courtyard of the temple. The second level is still a page and the third level there is petilasan Ki Ageng Krincingwesi, the ancestral village communities CETO. On the right wall of the gate. There are inscriptions in Old Javanese script reads Pelling Padamel irikang tirtasunya book hawakira ya saka sometimes lost wiku goh anaut iku. The interpretation of the text tends function of the temple to cleanse themselves (ruwat) and peyebutan year of manufacture of the gate, which in 1397 Saka or in AD 1475 AD. Seventh terraces settings there is a flat rock on the ground depicting a giant tortoise, solar Majapahit. Turtles are the symbol of creation of the universe, while the penis is a symbol of human creation. There are depictions of other animals, such as mimi, frogs and crabs. On the eighth level there is a statue phallus (called “kuntobimo”) on the north side and the statue of the King UB V in the form of Mahadeva. Worship of this statue symbolizes the gratitude and hope of an abundant fertility of the earth. And the last is the ninth level is the highest level as a place of prayer climbing. Here there is a cube-shaped stone building.

dsc_0104

Surya Majapahit, from one up terraces.

dsc_0107

Javanese traditional house, with four pillar.

dsc_0109

Its look old.

dsc_0111

The highest pillar gate.

dsc_0115

Only for Hindu’s worship places.

dsc_0117

Tradicional dress.

dsc_0116

From the top, 1400 meters above sea level, wow.

After that, let’s go down this temple and tea gardens! The location is not so far from the temple, about 3 kilometers we can see the beautiful green garden. For the way it is, you take the road towards the Karanganyar city.

dsc_0136

Machu Picchu? No!

dsc_0137

Plantation location looks very extreme.

dsc_0138

Amazing place!

dsc_0140

There will not be in town.

dsc_0141

The background is Lawu mountain.

dsc_0143

This is Indonesia!

dsc_0142

So, will you enjoy the warm atmoshere in the tea garden with me?

Menjelahi “Kampung” Eropa di Kota Surabaya

Halo temen-temen, rasanya baru kemarin weekend eh sekarang sudah minggu sore nih. Cepet banget nggak sih? Hahaha. Padahal setelah minggu, muncul hari senin. Kembali ke aktivitas sehari-hari. Ada yang kerja, kerja, kuliah, travel dan lain sebagainya. Ya sudah deh, hilangkan dulu sejenak tentang rutinitas esok hari. Mimin mau share mengenai gedung-gedung tua yang bersejarah di Surabaya, khususnya dengan arsitektur bangsa Eropa. Yuk cekitdot !

dsc_0802-1

Gedung Eks De Javasche Bank. Gedung tua yang dibangun pada tahun 1920 milik perusahaan Borsumij, dimana perusahaan tersebut merupakan the Big Five dari perusahaan Belanda. Saat ini aktif sebagai kantor BNI dan digunakan sebagai gudang.  Lokasi : Jalan Rajawali No. 10 Surabaya.

Continue reading

Bercengkrama dengan Satwa di Taman Balekambang Solo

Holla, hari ini jumat dan sebentar lagi sudah ketemu weekend nih. Gimana kegiatan dalam satu minggu ini guys? Hehehe. Semoga terselesaikan dengan baik ya. Aamiin 🙂

Sore yang mulai gelap ini, mimin ingin sharing mengenai tempat yang bikin enjoy. Dimana kamu bisa berinteraksi dengan hewan, seperti foto di bawah ini. Tenang dulu, mimin tidak membawa kamu pergi ke padang savana di Afrika, tapi cukup di dalam kota, nah!

dsc_1114_1_filtered

Kamu bisa berinteraksi dengan rusa dengan jarak yang cukup dekat.

Continue reading

Mbolang ke Bromo

Holaaaa, kabar gimana? Baik kan? Semoga suasana ceria pada weekend ini jangan cepat berubah ya temen-temen, meskipun besok udah hari Senin lagi 😀

Kemarin kan udah update tentang OOTD nih, sekarang kita akan menceritakan keseruan ngilang eh mbolang ke tempat yang seger-seger karena tau sendiri dong, kalo Surabaya itu panasnya minta ampun, apalagi kalau musim kemarau, beuh sampai 34 Celcius -_-

img_20160731_062642_hdr

Pemandangan yg bikin pikiran jadi fresh lagi 😀

Continue reading

(2) Jejak Manusia Purba Sangiran : Klaster Bukuran

” Libur telah tiba! Libur telah tiba! Hore! Hore! Hore! ”

Masih ingat lirik di atas? Hihihi. Anak 90’an pasti tau dong. Yes, itu lagu Tasya waktu masih imut-imutnya. Meskipun sekarang weekend, boleh dong diasumsikan sebagai hari libur? Atau malah nggak libur? Serah-serah deh.

Temen-temen, pada minggu lalu kami posting artikel jalan-jalan ke situs bersejarah, yakni situs purba Sangiran untuk wilayah Manyarejo. Kalau belum baca, bisa lihat disini (1) Jejak Manusia Purba Sangiran : Klaster Manyarejo.

Nah di hari yang mendung mesra ini, kami akan melanjutkan artikel dari musium purba Sangiran. Ceritanya sebelum masuk ke ruang utama musium purba klaster Manyarejo yang posisinya diatas bukit, penulis melihat suatu bangunan besar yang sangat mencolok daripada lingkungan sekitar. Karena penasaran penulis mencoba bertanya kepada petugas penjaga musium. Ternyata bangunan besar itu adalah masih bagian dari musium purba Sangiran! Wah, benar saja. Ketika melihat peta klaster musium, terdapat beberapa klaster yang tempatnya tidak begitu jauh. Oleh karena itu, karena perjalanan jauh sangat eman jika melewatkan klaster yang satu ini, yaitu Bukuran.

 

img_20160612_105650_v1

Pintu masuk menuju Musium Manusia Purba Klaster Bukuran. Arsitektur tampil ciamik untuk kelas bangunan musium.

 

Dikutip dari website humas kota Sragen, Jawa Tengah, dikatakan bahwa Klaster Bukuran terletak di Desa Bukuran dan merupakan salah satu situs yang kaya akan tinggalan fosil-fosil manusia. Sebagian besar temuan sisa-sisa manusia purba jenis Homo erectus dari Sangiran ditemukan di situs ini. Hal inilah yang menjadikan pusat informasi mengenai evolusi manusia purba. Continue reading

(1) Jejak Manusia Purba Sangiran : Klaster Manyarejo

Hai temen-temen! Ketemu lagi nih. Udah lama banget ya kami ga update, hehehe. Maklumlah makin kesini kita makin ada kegiatan, dari dia yang sekarang masih menjalani PPL dan KKN di Kulonprogo walaupun sekarang udah minggu terakhir tapi masih tetep sibuk, hiks. Sedangkan aku di kampus aja sih, nggak gabut, tapi memang ada kerjaan. Yaaah, sama-sama memanfaatkan waktu, meski harus kami lalui dengan rasa rindu yg menggebu, wkwkwk. Ojo baper lho, halah 😀

Okay, pada kesempatan malam ini, ijinkan untuk mempersembahkan artikel jalan-jalanku waktu puasa kemarin. Dari Jogja, cus pulang ke Surabaya keinget ada musium purbakala di Saringan, salah satunya klaster Manyarejo, mampir wes sikaaat B-)

Mungkin kalian berpikir, kenapa sih kok ke musium gituan? Hehe. Tentu ada alasannya untuk main kesini. Yaitu : mengenang pelajaran sejarah masa SD – SMP!

img_20160612_102317_hdr_v1

Halaman depan klaster Manyarejo, berbukit!

Continue reading

Menikmati Milky Way di Perkebunan Bawang

DSC_0079

Nikon D5200, F/3.5, ISO 6400, 30 sekon.

Selamat sore temen-temen, ndak terasa ya sudah semingguan setelah lebaran. Sebelumnya, kami mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri pada tahun 2016 ini. Semoga hari kedepan tetap diberi keberkahan dan kekuatan untuk menjalani hidup, aamiin. Apakah udah pada balik ke tempat asal belum? Atau masih stuck di rumah? Hehe 😀 Ngomong-ngomong dapet THR berapa? Wkwk. Yah yang pasti digunakan dengan benar supaya bermanfaat ya temen-temen 😀

Apakah ada yang tau foto diatas itu  objek apa?  Mungkin bagi pengagum pemandangan langit langsung bisa menebak! Yess, itu adalah penampakan bintang-bintang dan milky way. Milky way adalah galaksi yang dihuni oleh bumi kita. Meskipun terlihat seperti kabut saja, namun sangatlah luar biasa karena kita bisa menangkap foto tersebut. Diketahui bahwa jaraknya sangaaaaaaaat jauh 😀

Continue reading

Tamansari Water Castle

Assalamu’alaikum wr.wb

Bertemu lagi bareng BikinBaper blog setelah beberapa minggu ga udpate (maapkeun) dikarenakan kesibukan yang menyita waktu kami *tsaahhhh

Btw udah puasa aja nih yaaa, Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat berpuasa bagi yang menjalankan ^^

Oh iya, selamat berlibur juga buat para siswa dan mahasiswa setelah menjalani ujian akhir semester. Nah, pas banget nih, BikinBaper punya referensi tempat wisata yang emang udah terkenal banget bahkan sampai ke mancanegara. Berlokasi di salah satu provinsi di Indonesia dimana Gubernurnya merupakan Raja yang telah mengabdikan diri pada rakyat selama bertahun-tahun, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mulai dari sini mari kita menelusuri tiap jengkal obyek wisata water castle, Tamansari.

Pintu masuk Tamansari

Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Keraton Yogyakarta adalah situs bekas taman atau kebun istana Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman yang mendapat sebutan “The Fragrant Garden” ini memiliki luas lebih dari 10 hektar dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Kebun yang digunakan secara efektif antara 1765-1812 ini pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai tenggara kompleks Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.

Continue reading